Sangadi Nuangan Keberatan Pembangunan Pintu Air di Wilayah Tanpa Sepengetahuan Pemdes

KinalangNews, Nuangan – Pekerjaan pintu air untuk pembangunan sarana pertanian, khusus persawahan di wilayah Kecamatan Nuangan lewat kegiatan Swakelola Tipe Empat Tahun Anggaran 2021 mendapat komplain dari Pemerintah Desa (Pemdes) Nuangan.

Swakelola pembangunan sembilan item pintu air yang diberdayakan terhadap dua Kelompok Tani di wilayah tanggung jawab Pemdes Nuangan tersebut memakan anggaran senilai Rp280 Juta.

Namun, Kepala Desa atau Sangadi Nuangan, Hamdan Arbie, selaku Pemerintah yang berada di lokasi pekerjaan mengaku keberatan sebab tidak menerima pemberitahuan secara tertulis dari pihak Dinas maupun kelompok.

“Saya hanya keberatan saja kenapa tidak ada laporan ke saya, sementara pekerjaan sudah mulai jalan,” akunya, Jumat (20/08).

Menurut Hamdan, kelompok tani yang ada di Nuangan sebagian besar diketahuinya. Akan tetapi, Pemdes setidaknya harus mendapat pemberitahuan atas kelompok serta anggotanya yang mendapat swakelola tersebut.

“Sampai saat ini saya tidak mengetahui keanggotan dua kelompok tani yang mendapat program Swakelola dari Dinas Pertanian Daerah. Bahkan saya sendiri yang harus memanggil kelompok selaku penanggung jawab pekerjaan. Kalau seperti ini, ketika ada kendala yang terjadi Pemdes angkat tangan,” ujarnya.

Baca Juga :  PT ASA Terima Penghargaan di HUT ke-18 Boltim

Penanggung jawab pekerjaan Swakelola kelompok Tani, Adi Adam, saat dihubungi atas keluhan Sangadi tersebut memberikan pernyataan berbeda.

Ia menyatakan bahwa dalam hal ini, sudah pernah dirinya menyampaikan adanya pekerjaan kepada Sangadi. Bahkan beberapa perangkat di Desa juga dilibatkan.

“Oh justru saya mendapat dukungan Sangadi, kenapa seperti ini, ada perangkat RT, RW dan lainya saya libatkan untuk pengadaan material dalam program itu,” kata Adam.

Lanjut Adam, hasil koordinasi dengan pihak Dinas bahwasanya terkait pemberitahuan secara menyurat kepada Sangadi Nuangan akan ditindak lanjuti hingga Senin 23 Agustus 2021 pekan depan.

Sementara terakit pekerjaan baru di mulai bahkan untuk awal pekerjaan pengerukan yang memerlukan alat, ia gunakan dana pribadi untuk penyewaan alat, karena kegiatan baru dimulai.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Dinas, katanya nanti hari Senin nanti akan mengajukan pemberitahuan kepada Sangadi. Karena pekerjaan juga itu baru akan dimulai, bahkan untuk tahap awal pengerukan saya menggunakan dana sendiri,” ungkap Adam.

Baca Juga :  PT ASA Terima Penghargaan di HUT ke-18 Boltim

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Mat Sunardi membenarkan kegiatan tersebut baru saja pencairan dana tahap awal, “Iya itu sudah pencairan tahap awal,” kata Sunardi.

Terkait keluhan Pemdes Nuangan, Ia menerangkan dalam agenda pertemuan awal di Kecamatan Nuangan bahkan sampai di tingkatan Kabupaten sebelum pandemi Covid-19 sudah diingatkan untuk selalu berkoordinasi dengan Pemerintah.

“Saya fikir ini, ditingkat bawah itu kan ada Koordinator, ada etika yang juga kelompok kan harus berkoordinasi dengan Pemerintah, kita sudah harapkan semua harus koordinasikan di bawah. Yah harusnya sejak pertemuan di Nuangan di Balai penyuluhan, sebelum pelaksanaan, kemudian kita kumpul di Kabupeten masih celah sebelum covid ya, saya titip minta harus semua berkoordinasi dengan Pemerintah,” terangnya.

Sunardi menambahkan soal ini bisa dibenahi, karna sejauh pertemuan bahkan Anggota DPRD yang ada di wilayah juga mengetahui soal ini bahkan Camat juga dibeberapa pertemuan. Intinya harapan saya sudah terkoordinasi di tingkat bawah.

Baca Juga :  PT ASA Terima Penghargaan di HUT ke-18 Boltim

“Ya ini kita benahi lah kalau ada yang mis mis ya, harapan saya ini program juga kan untuk masyarakat mereka, tinggal mungkin etikanya sebagai Rakyat di sana harus saling berkomunikasi kan, Intinya ini kita benahi lah karna banyak yang saya urus, harapan saya sebenarnya sudah jalan komunikasi dibawah, untuk dewan juga dalam hal ini Pak Sunarto tau. Yah kita benahi aja,” jelasnya.

“Kalau anu yah hal hal inilah kita benahi aja kedepan, kalau mereka ada kekhilafan. Camat tau kok kita saling diskusi di Kabupaten, hanya mungkin dalam covid ini kan banyak tersedak pertemuan di Kabupaten. Sehingga tidak bisa jalan dengan yang kita harapkan.Tapi walaupun kondisi ini kuncinya adalah hal hal yang terkait dengan pemberdayaan petani, mereka yang mengelola, mereka yang melaksanakan, uangnya masuk ke mereka itu mungkin intinya,” tutup Sunardi.

Penulis/Editor: Ryan Mokodompit

Pos terkait